Feeds:
Posts
Comments

“Kau… Kau… Fsy…? Ba… Bagaimana mungkin?” Tempest tampak shock.

     Sosok itu mendekatinya, masih tersenyum, mengarahkan senapan busurnya ke Tempest, “Dor! Kena kau!”

     “Selama ini, Kakak yang…”

     “Aku juga baru menyadarinya, beberapa saat setelah kau pergi.” Sekarang tampak jelas sekali bahwa ia Flowings. “Bahwa aku adalah seorang dari lima pembebas.”

     “Lalu kode nama Fsy itu…” Tempest berusaha menenangkan diri.

     Flowings tampak kesal, “Kau sudah berapa lama jadi adikku?”

     “Um…”

     “Tujuh belas tahun, Tempest! Tujuh belas tahun! Masa kau tidak tahu siapa namaku?”

     “Flowings Skyero…” Tempest kaget, tiba-tiba semua menjadi jelas, dan ia tertawa.

     “Hahahahaha! Aku bodoh ya… Kode nama semudah itu… Kalau saja waktu bangun aku mengeja nama Kakak secara benar…” Tempest tertawa terbahak-bahak.

     “Flowings SkYero, FSY…” Flowings mengucapkan namanya, sambil menekankan pada huruf F-S-Y. Lalu ikut tertawa, “Adik bodoh…”

     “Karena terlalu banyak tertawa, aku jadi lupa mau tanya apa. Aku berencana bertanya beberapa hal, jika aku bertemu Fsy…” Tempest masih tertawa.

     “Sudah, ayo pulang… Mau makan malam?”

     “Makan malam???”

     “Ini sudah sore, Tempest. Kau terlalu banyak tidur…”jelas Flowings, masih tertawa.

 

*****

 

     “Ayah dan ibu belum pulang?” tanya Tempest bingung.

     “Sebenarnya, mereka dan Tuan Rach sedang jalan-jalan. Aku sengaja bilang, aku malas ikut, dan kau sedang sakit…” Flowings tersenyum licik, sambil memberi Konron biskuit.

     “Dasar Kakak, penduduk desa pasti menganggapku gila sekarang.”

     “Makanya sudah kuperingatkan, jangan pernah mengungkit masalah ini lagi. Sudah untung aku menyelamatkanmu dengan surat itu. Kalau tidak, kau sudah benar-benar dianggap gila. Tadi aku juga sudah menjelaskan pada mereka, bahwa aku sedang mau mengerjaimu. Aku kena omel, deh.” jelas Flowings, tampak kesal.

     Flowings meletakkan dua buah piring di atas meja, dan menghidangkan setumpuk roti panggang. “Sudah kubilang, Tuan Rach memberi kita banyak roti, jadi harus kau habiskan semuanya, Tempest. Kau mau besok makan roti lagi?” terang Flowings, melihat kekesalan di muka Tempest.

     “Sejak kapan jalan ke hutan tertutup batu?”

     “Sudah lama. Gempa itu benar-benar ada, Tempest. Tapi waktu kau pulang, batu sudah berhasil dihancurkan. Entah kenapa, setelah aku membawamu pulang dari hutan, batunya muncul lagi.”

     “Lalu sejak kapan Kakak menyadari aku juga pembebas?” tanya Tempest dengan mulut penuh roti.

     “Sudah kubilang, aku kan mencarimu ketika kau pergi. Ketika kau menggunakan pedang itu untuk mengalahkan Kyounzh, aku kaget, tapi aku belum bisa memastikan. Makanya, ketika kau masuk hutan, aku khawatir sekali padamu, jadi kuikuti saja.”

     “Lalu kalau aku benar-benar bertanya pada Guru Efron soal pedang itu, bagaimana?”

     “Guru Efron sedang jalan-jalan bersama Tuan Rach juga,” jawab Flowings riang. “Makanya kumanfaatkan kesempatan ini. Lagipula itu hanya untuk menenangkanmu sebentar. Aku akan membuka kedokku sebelum mereka pulang.”

     Tempest diam saja. Dia masih tak percaya apa yang terjadi hari ini. Benar-benar peristiwa aneh.

     “Tak kusangka, kau bisa diberi mimpi itu secepat ini. Makanya hari ini juga kuberitahu.” jelas Flowings.

     “Tapi, Kakak hebat, bisa mengalahkan Phantom Deer dalam satu tembakan.”

     “Aku hanya memanfaatkan kesempatan. Lagipula, kau kan sedang tidak memakai senjata pilihan.”

     Tempest tampak bingung.

     “Pedangmu. Busur ini juga.”

     Tiba-tiba, Tempest teringat akan sesuatu. Ia memang ingin bertanya hal itu ketika bertemu Fsy.

     “Kakak… Dalam mimpiku…”

     “Kita harus mencari dua orang lagi kan?” potong Flowings. “Menurutku, tak ada di desa ini. Kita harus keluar…”

     “Bagaimana Kakak bisa yakin bahwa mereka berdua tak ada di desa ini?”

     “Batu itu… Menurutku, batu itu akan muncul setiap kali ada pembebas yang memasuki hutan itu. Ketika kau tertidur, aku mengamati bahwa ada beberapa orang berusaha menghancurkan batu itu. Waktu itu, dengan mudahnya mereka menghancurkan batu itu. Anehnya, untuk yang kali ini, batu itu tak bisa dihancurkan. Dan tak ada gejala aneh sebelum kemunculan batu itu. Jadi, aku menarik kesimpulan bahwa sudah tak ada lagi pembebas dari desa ini. Lagipula, apa masuk akal jika semua pembebas berasal dari desa ini?”

     Tempest mengangguk. Baru kali ini ia mengakui kecerdasan kakaknya. Tapi kemudian ia ingat sesuatu.

     “Kak, kalau Kakak, kenapa masuk ke hutan itu?”

     Flowings tampak terkejut ditanya seperti itu. Lalu dengan malu-malu ia menjawab, “Itu… Sebenarnya, aku ingin sekali mencari binatang peliharaan yang lucu. Makanya, aku masuk untuk mencarinya. Kupikir, kalau hanya di area luar saja, tidak apa-apa, tapi aku malah dikejar Phantom Deer sampai masuk ke dalam. Beruntung aku selamat.”

     “Lalu?”

     “Yah… Sama sepertimu. Tapi aku memilih kabur daripada melawan. Lalu aku tersesat dan ceritanya sama sepertimu. Hanya saja… Aku berhasil keluar!” lanjut Flowings, bangga.

     Tempest diam saja.

     “Makanya, jangan pernah melawan apa yang tidak bisa kau lawan. Kalau tidak ada aku, bagaimana?” kata Flowings, sok menasehati.

     “Eh, Kak,” Tempest berusaha mengalihkan pembicaraan, “Jadi kapan kita akn berangkat mencari yang lain?”

     “Sesegera mungkin. Kalau besok mau?” tawar Flowings.

     “Terserah Kakak saja.” pasrah Tempest.

 

*****

    

     Memang sebuah kejutan bagi Tempest mengetahui bahwa kakaknya juga pembebas, sama seperti dirinya. Sekarang dia sedang berkemas, membawa perlengkapan, sedikit makanan, dan beberapa stel pakaian untuk perjalanan. Tadi, Flowings telah meminta izin orang tua dan guru mereka, yang baru saja kembali, untuk pergi. Flowings beralasan mereka perlu mencari penghidupan bagi orang tua mereka. Selesai berkemas, mereka bergegas meninggalkan desa, dan memulai petualangan baru mereka. Petualangan yang menentukan nasib dunia mereka.

The Title of Episode

Maaf, saya lupa mencantumkan judul dari setiap episode. Berikut ini judulnya:

Episode 1        – The Beginning
Episode 2        – Big Battle Against Kyounzh!
Episode 3        – The Cursed Forest
Episode 4 & 5 – Dream or Reality? That’s Weird!
Episode 6        – Me and My Sister

Dalam episode 6, semua pertanyaan yang muncul dari episode 3, akan terjawab. Jadi, harap dibaca ya!

Apa yang sedang terjadi? Tempest kebingungan dan ketakutan. Dalam kebingungannya, Tempest berlari keluar rumahnya. Ia nyaris menabrak Rad.

“Hey, Tempest. Apa yang terjadi?” tanya Rad bingung.

“Rad… Apa kau pernah melihatku masuk ke hutan?! Pernahkah kau mencegahku?!” tanya Tempest panik.

“Tidak… Lagipula, hutan itu kan sudah tak bisa dimasuki lagi. Ada bongkahan batu besar yang menutupi jalan ke hutan. Masa tidak tahu?” balas Rad bingung.

“Bagaimana mungkin? Aku merasa aku memasukinya… Aku memasuki hutan itu…” Tempest tambah bingung.

“Ah… Tak mungkin. Waktu kau pergi, terjadi gempa, dan batu-batu berjatuhan, memblokir jalan ke hutan. Mungkin kau hanya sedang bermimpi.” jelas Rad.

Dengan bingung, Tempest masuk ke rumah lagi. Flowings dan Konron menatapnya bingung.

“Kakak, apa aku pernah mengatakan pada Kakak, aku mau pergi ke hutan?” serang Tempest.

“Tenang dulu. Aku tak pernah mendengarmu mengatakan hal itu…” balas Flowings, sambil menenangkan Tempest.

“Tapi… Tapi… Pedang yang ada di kamarku…”

Flowings tertawa terbahak-bahak. “Tempest… Tempest… Apa hubungannya pedangku dengan kau ke hutan?” kata Flowings di sela-sela tawanya.

“PedangMU?!”

“Ya, pedangku!” kata Flowings, masih tertawa. “Itu kudapat dari Guru Efron, karena aku tak bisa memainkan pedang, kuberikan saja padamu. Supaya jadi kejutan, kutaruh di bawah ranjangmu, memangnya kenapa?”

Guru Efron adalah guru memanah Flowings dan Tempest.

“Kalau tak percaya, tanya saja Guru…” lanjut Flowings.

“Tapi…”

Tempest lantas menceritakan apa yang terjadi ketika ia bersama Ground dan Slain, lalu tentang kejadian (yang entah mimpi atau kenyataan) yang dialaminya di hutan. Flowings tampak tak percaya.

“Aku tak tahu apa yang kau alami dalam perjalananmu. Tapi, kejadian dalam hutan itu pasti hanya mimpimu saja. Bagaimana kau bisa ke hutan kalau jalan ke hutan tertutup?”

“Kakak bukannya mengikutiku waktu aku bersama mereka?” Tempest tambah bingung.

“Aku tidak mengikutimu, aku mencarimu. Aku melacakmu berdasarkan informasi yang kudapat dari tempat yang sudah kau lewati. Jadi, aku tak tahu apa-apa tentang dirimu, sampai aku bertemu dirimu yang sudah pingsan.” jelas Flowings panjang lebar.

Tempest terdiam. Ia bingung, takut, dan curiga.

“Sudah ya, aku sibuk…” kata Flowings sambil berlalu.

Tempest kembali ke kamarnya, ia memandang pedang itu. Benarkah pedang ini dari kakaknya? Apa yang terjadi saat ia, Ground, dan Slain melawan Kyounzh? Benarkah itu cuma fenomena alam biasa? Lalu apakah yang terjadi padanya itu hanya mimpi? Tempest makin tak mengerti.

Tempest mengingat-ingat lagi. Kejadian itu terasa nyata sekali. Bagaimana itu Cuma mimpi? Tempest mencoba mengayun-ayunkan pedang itu. Tidak terjadi apa-apa. Ia menggantung pedang itu di dinding. Mungkin benar, ini pedang dari Guru Efron. Tapi ada yang janggal. Kenapa ia bisa tidak tahu kalau jalan menuju hutan tertutup batu? Dan lagi, kenapa penduduk desa, termasuk orang tua dan kakaknya tidak memberitahunya bahwa ada gempa ketika ia pergi?

“Tentu, aku juga tak tahu. Waktu kejadian itu, aku kan sedang mencarimu.” jawab Flowings, ketika Tempest bertanya tentang hal itu.

“Lalu, kenapa ayah dan ibu tidak memberitahu kita?”

“Yah… Mungkin mereka berpikir sudah ada yang memberitahu kita.” jawab Flowings santai.

Tempest terdiam, Flowings melanjutkan.

“Kurasa kau perlu banyak istirahat, Tempest. Mungkin pikiranmu terganggu waktu perjalanan itu…” saran Flowings.

Tempest menurut saja, ia kembali masuk ke kamar.

“Oh ya, Tempest…” tiba-tiba Flowings memanggil.

Tempest menengok.

“Masalah pedang dan mimpimu itu,” Flowings tampak serius. “Jangan pernah dibahas lagi, apalagi dibicarakan ke penduduk desa lainnya. Bisa-bisa kau dianggap gila.”

Tempest terdiam, lalu masuk ke kamarnya.

*****

“Dimana ini?”

Tempest berjalan di sebuah tempat yang sangat gelap. Sekelilingnya gelap. Benar-benar gelap…

“Selamat datang Tempest Skyero. Aku sudah lama menunggumu. Waktunya sudah tiba.” tiba-tiba terdengar suara.

“Siapa kau? Di mana aku?” teriak Tempest bingung.

“Tentu saja dunia mimpi,” tawa suara itu. “Belum waktunya aku memberitahumu siapa aku, tapi aku akan memberitahumu apa yang terjadi di dunia nyata.”

“Baiklah. Aku sudah mengalami peristiwa yang benar-benar membingungkan.”

“Sebenarnya pedang itu tidak kau dapat dari gurumu, melainkan dariku. Kejadian di hutan itu juga bukan mimpi.”

“Jadi… Tapi kenapa penduduk desa tidak mengetahuinya…?”

“Aku akan ceritakan dari awal. Sebenarnya kau adalah salah satu dari lima orang terpilih yang akan membebaskan dunia ini dari kegelapan yang sudah secara terus-menerus menyiksa manusia. Hutan itu sengaja aku segel supaya hanya sang terpilih yang dapat masuk. Jika orang lain masuk, mereka akan tertidur dalam hutan itu, sampai lima orang terpilih berkumpul. Jika semua pembebas telah terkumpul, maka keadaan desa ini akan kembali seperti semula. Soal Phantom Deer itu, aku sengaja mengujimu. Tapi, memang kau masih perlu banyak latihan.”

 

“Jadi, yang menolongku itu… Kau…?”

“Biar aku selesaikan dahulu. Lalu, mengapa penduduk desa tidak mengetahuinya, karena setelah kau mencabut pedang itu, semua ingatan mereka dari perjalananmu masuk ke hutan itu, sampai kau keluar telah terhapus. Kecuali orang itu, orang yang menyelamatkanmu dari Phantom Deer, dan membawamu pulang ke desa.”

“Siapa orang itu?!” Tempest kaget.

“Ia salah satu dari lima pembebas. Tapi mungkin sekarang ia tak mau diberitahu jati dirinya. Kau akan tahu kelak. Aku hanya bisa memberitahumu kode namanya: Fsy.”

“Jadi, kemana aku harus mencari tiga pembebas lainnya?”

“Bukan tiga, tapi dua. Sebab, seorang lagi akan muncul setelah empat orang berkumpul. Sang pemimpin. Orang yang ditakdirkan memimpin kalian. Aku tak mau memberitahumu lebih lanjut lagi. Itu tugasmu dan Fsy untuk mencari dua orang lagi. Sampai jumpa.”

“Tunggu! Aku masih mau bicara…! Tunggu!!!”

*****

“TUNGGU!”

“Tempest, bangun! Bangun!”

Tempest membuka matanya, ia melihat Flowings tampak cemas.

“Kau mimpi buruk lagi? Dari tadi terus berteriak ‘tunggu’!”

Tempest langsung berdiri, membuat Flowings terkejut.

“Kakak, kejadian aku masuk hutan itu bukan mimpi! Pedang itu bukan dari Guru Efron!” teriak Tempest.

“Kau mimpi apa lagi, Tempest? Itu jelas-jelas kudapat dari Guru…” Flowings tampak kebingungan.

Tempest baru ingat sesuatu. Ia mendesah, lalu berkata, “Sudahlah…” Mereka tak akan ingat, batinnya. “Oh ya, Kakak tahu tidak orang yang sering dipanggil Fsy di desa kita?”

Flowings tampak terkejut, tapi ia lalu berkata, “Tidak, tak pernah…”

Aneh. Jadi siapa Fsy itu? Mungkin itu sebuah kode, batin Tempest. Aku harus mencarinya!

Mendadak Tempest membuka pintu kamar, sambil berujar pelan, “Kakak, aku pergi dulu.”

“Jangan berulah lagi dan menceritakan mimpimu, Tempest.” Flowings tampak panik.

“Tidak. Ada sesuatu yang harus kuselidiki!” teriak Tempest sambil berlari, keluar dari rumah lagi.

Setelah Tempest tidak tempak lagi, Flowings tersenyum, dan bergumam perlahan, “Tempest, tentu saja aku tahu siapa Fsy itu…” Lalu, ia menuju lemari dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

*****

“Aku tak tahu siapa dia.”

“Siapa Fsy? Memangnya ada nama itu di desa kita?”

“Tidak, tidak tahu…”

“Setiap orang yang kutanya, pasti menjawab tidak tahu.” keluh Tempest.

“Sudah separuh penduduk desa kau tanyai,” keluh Rad. “Memang tak ada nama Fsy di desa kita, Tempest… Kau pulang saja, istirahatlah, kau tampak terganggu.” desaknya.

“Itu hanya kode nama… Siapa tahu ada orang yang…”

Kata-kata Tempest terpotong oleh sebuah ledakan kecil di tengah lapangan desa. Tempest dan Rad bergegas menghampiri. Orang-orang pun ikut menghampiri ledakan itu. Ingin tahu.

Rupanya hanya sebuah anak panah tertancap di lapangan. Rad mencermatinya, dan mendapatkan bahwa ada surat yang diikat di anak panah itu, lalu ia membaca isinya…

“Untuk Tempest Skyero. Harap datang ke Goa Storm di sebelah utara desa. Aku menunggumu. Dari: Orang yang kau cari, Fsy. Jadi memang benar Fsy itu ada… Tempest, orang yang kau cari ada di Goa Storm!”

Memang tak perlu dikomando lagi, Tempest sudah menghilang dari kerumunan. Secepat kilat, ia pulang ke rumah, menyambar pedang yang tergantung itu dan lari ke goa itu. Ia tidak memperhatikan bahwa kondisi rumahnya kosong. Kosong…

Tak peduli angin kencang, ia tetap berlari ke goa itu. Ia benar-benar ingin tahu siapa Fsy itu. Kalau sudah bertemu, ia ingin Fsy menjelaskan semuanya padanya. Semua yang terjadi…

Langkahnya terhenti di pintu masuk goa itu. Ia kelelahan, tak pernah berlari sekencang itu.

“Kalau hanya berlari ke sini saja kau sudah kelelahan, apa kau pantas disebut pembebas?” sahut sebuah suara yang sangat dikenali Tempest.

Sesosok yang sangat dikenalinya keluar dari goa, tangannya memegang sebuah senapan busur. Ia tersenyum.

“Bagaimana mungkin…? Kau… Kau… Fsy…?” Tempest tergagap, tak percaya.

 

Tempest pulang ke rumah, mengambil busur dan anak panahnya. Konron menatapnya bingung, seolah-olah menanyakan apa yang terjadi. Tempest tak mempedulikannya.

“Mau kemana kau?” tanya Flowings, yang tiba-tiba muncul.

“Aku mau ke hutan.” jawab Tempest

Flowings tampak tidak mempedulikannya. Tempest keluar. Tetangga-tetangganya tampak heran melihatnya membawa busur dan anak panah.

“Tempest, mau kemana kau?” tanya Rad, salah satu tetangganya.

“Aku mau ke hutan.” jawab Tempest santai.

“Kau sudah gila ya?” Rad terkejut.

“Tidak, hanya saja aku kan harus menghidupi keluargaku.” balas Tempest, berlalu dengan santai. Para tetangganya terdiam.

Dengan santai Tempest berjalan ke dalam hutan. Rad hanya bisa geleng-geleng kepala. Semoga Tempest selamat, batinnya.

*****

Keadaan hutan tampak tidak berubah, masih sama seperti dulu. Tapi Tempest merasa sekarang hutan jauh lebih sepi. Tampaknya tidak ada binatang yang berkeliaran seperti biasanya. Tiba-tiba Tempest merasa takut. Ada yang tidak beres, pikirnya. Ia hendak keluar, tapi seolah-olah ada yang menyuruhnya masuk terus. Tempest benar-benar bimbang. Ia tidak merasakan bahwa ada seseorang sedari tadi mengawasinya. Tempest terus berjalan masuk ke dalam hutan. Ia merasakan ada yang menyuruhnya terus masuk. Kenapa dengan diriku, batinnya. Tapi, ia tetap terus berjalan. Tiba-tiba, Tempest melihat seekor rusa sedang merumput. Ini kesempatan, batinnya. Tempest menyiapkan busur dan siap memanahnya. Tiba-tiba rusa tersebut lari. Tentu saja, Tempest mengejarnya dengan sekuat tenaga. Rusa it uterus berlari, dan Tempest terus mengejarnya. Tiba-tiba rusa itu berhenti. Tempest senang, merasa mendapat kesempatan. Ia kembali hendak memanahnya. Tiba-tiba sekeliling menjadi sangat terang, dan sekejap kembali seperti semula. Rusa itu sudah tidak tampak. Yang ada dihadapannya adalah makhluk raksasa berkepala rusa, bertubuh manusia, bersayap kelelawar, dan membawa sabit raksasa. Tempest pernah membacanya di buku. Makhluk itu sangat berbahaya… Phantom Deer.

*****

Tempest ketakutan. Sang Phantom Deer mendekatinya, bersiap menyerangnya. Tempest bersembunyi antara pohon, berharap Phantom Deer yang bertubuh besar tidak dapat masuk. Di luar dugaan Tempest, Phantom Deer menembakkan bola cahaya dari mulutnya, dan menghancurkan pohon-pohon itu. Tempest terus berlari, dan Phantom Deer terus mengejarnya, sambil menghancurkan pohon-pohon. Dengan gesit, Tempest menghindari tembakan-tembakan cahaya itu. Sampai akhirnya Tempest merasa bahwa tidak ada gunanya ia berlari terus.

Aku harus bertarung, batinnya.

Dengan cepat, Tempest menembakkan anak panahnya mengenai tubuh Phantom Deer. Tapi sepertinya tidak efektif. Anak panah itu dilempar kembali ke hadapan Tempest, yang langsung menghindar. Tempest menembakkan kembali anak panahnya, mengenai tubuh Phantom Deer. Walaupun tertancap, langsung dicabut, dan dilempar kembali ke Tempest, yang kembali menghindar. Dengan seketika itu, Phantom Deer mengayunkan sabitnya ke arah Tempest, Tempest berusaha mengelak lagi, tapi mengena lengan kanannya sampai terluka.

Tempest terjatuh. Ia juga sudah kelelahan, sedari tadi menghindari serangan Phantom Deer. Phantom Deer bersiap menembakkan bola cahaya ke Tempest. Tempest memejamkan mata ketakutan, tapi setelah beberapa lama tidak ada yang terjadi. Ia membuka mata heran, ternyata Phantom Deer yang ada di hadapannya roboh. Dari balik semak ada sosok yang mengarahkan senapan busur ke arah Phantom Deer. Sosok itu memberi isyarat pada Tempest untuk lari. Tanpa membuang waktu lagi, Tempest berlari sekencang-kencangnya, tanpa mengetahui ke arah mana ia pergi. Sosok itu tampak menyeringai.

Tempest kini sampai di suatu tempat yang sangat asing baginya. Walau sudah terbiasa berkeliling hutan, ia belum pernah sampai ke tempat ini. Aku harus mencari jalan keluar, batinnya. Dengan mengandalkan arah matahari, ia berusaha mencari jalan keluar. Tapi, bukannya bisa keluar, ia malah tersesat lebih jauh lagi.

“Sial. Bagaimana ini?” gerutu Tempest.

Tempest panik dan kelelahan. Ia jatuh terduduk dan putus asa.

“Kalau saja tadi aku tidak masuk…” sesal Tempest.

Tempest berpikir, jangan-jangan nasib penduduk desa yang hilang sama seperti dirinya. Tersesat entah dimana. Kini jumlah penduduk desa yang hilang di hutan bertambah… Dirinya telah menjadi orang hilang…

Tempest berdiri, ia berjalan terhuyung-huyung tanpa arah. Putus asa. Dalam keputusasaannya, tiba-tiba ia menemukan sebuah bangunan. Mendadak, Tempest menjadi gembira. Ada pertolongan, batinnya. Ia lalu masuk ke dalam gedung itu.

Gedung itu ternyata kosong melompong. Dalamnya hanya sebuah ruangan luas yang kosong. Tempest kembali putus asa. Tiba-tiba, ia melihat sesuatu tampak tertancap di tengah ruangan itu. Tempest mendekatinya, dan ia kaget. Pedang yang waktu itu ia pakai melawan Kyounzh! Belum selesai keheranan Tempest, tiba-tiba ada sesosok cahaya muncul dihadapannya, kembali membuatnya kaget.

“Cabutlah. Engkau sang terpilih… Engkau sang pembebas.” kata sosok bercahaya itu, lalu menghilang.

“Tunggu…!” teriak Tempest, tapi sosok bercahaya itu sudah lenyap. Dengan bingung, Tempest menuruti perintah itu. Ia mencabutnya. Tiba-tiba ia merasa sangat pusing, lalu jatuh pingsan.

Tempest membuka matanya perlahan, matahari pagi menyinari mukanya dengan lembut. Dia ada di sebuah kamar. Dia memandang keluar jendela. Ya, pemandangan yang biasa dilihat. Anak-anak sedang bermain di luar, dan banyak petani sedang memetik buah. Ya, sedang musim buah sekarang. Tiba-tiba pintu dibuka…

”Pagi, Tempest, sarapan sudah siap!” Flowings masuk.

Dengan malas, Tempest keluar dari kamarnya. Jadi ini cuma mimpi, batinnya. Tiba-tiba, Flowings mendorongnya masuk ke kamar lagi.

”Tunggu! Ada yang belum siap! Masuk saja dulu!” kata Flowings panik.

Flowings tampak memasukkan sesuatu, yang sepertinya pernah dilihat Tempest, ke dalam lemari, dan menguncinya. Tempest curiga.

”Baiklah, silakan keluar, Tempest.” kata Flowings, tampak lega.

”Apa yang kakak sembunyikan?” tanya Tempest, curiga.

”Bukan urusanmu, tidak penting untukmu.” jawab Flowings, tampak marah.

Tempest tidak berani membuat Flowings marah. Maka, ia diam saja, dan menyimpan kecurigaannya.

Dengan malas Tempest melihat meja makan. Sudah tersedia beberapa piring makanan. Dan ketika ia melihat isinya lebih jelas, ia kaget.

”Kakak, kenapa roti panggang semua?” protes Tempest.

”Habis, tadi pagi, Tuan Rach memberikan banyak sekali roti, jadi kuputuskan saja makan pagi kita roti panggang” kata Flowings.

Seperti pagi itu, hanya beda versi. Orang tua mereka tidak ada, tapi Tempest diam saja, tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Dengan malas, ia menghabiskan roti panggangnya, dan kembali ke dalam kamar untuk tidur lagi. Karena mimpi itu, ia jadi takut ke hutan. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang tampak berkilau di kolong ranjangnya. Penasaran, Tempest menyibak seprainya dan melihat lebih teliti ke dalam. Dan ia kaget. Pedang itu… Pedang yang dicabutnya…!

”Jadi… Waktu itu… Ini bukan mimpi!” gumam Tempest kaget.

Setelah sampai ke puncak bukit, Ground melihat-lihat ke bawah, menentukan ke arah mana mereka harus pergi.
“Benar, dugaanku. Kita harus melewati Kota Repivtast, lalu dari kota itu, kita ke arah barat, untuk menuju Gua Repivtast.” jelas Ground.

Mereka bertiga pun mulai menuruni bukit, tapi tiba-tiba…

“Awas!” teriak Tempest.

Ada lima ekor Kyounzh di belakang mereka, siap menerkam.

“Kita tak mungkin menang! Lari, selamatkan diri kita masing-masing!” teriak Ground.

Mereka bertiga berlari sekencang-kencangnya menuruni bukit itu, sementara para Kyounzh dengan ganasnya mengejar mereka dari belakang. Tempest masih berharap pedang tadi ada di tangannya, jadi ia bisa menyerang para Kyounzh itu. Tapi, sia-sia saja, pedang itu tidak muncul. Tiba-tiba, dia mendengar jeritan dari belakang. Ternyata, seekor Kyounzh telah berhasil mencengkram Slain. Ya, luka Slain memang belum pulih, jadi ia tak bisa berlari cepat.

“Sial, aku harus bertarung!” gerutu Ground.

Ground mengeluarkan belatinya dan menyerang Kyounzh yang hampir menerkam Slain, tapi justru Kyounzh yang lain langsung mencakar lengannya. Lengan kiri Ground terluka parah. Tapi, ia tetap menyerang para Kyounzh itu.

“Lari! Kalian berdua lari sampai kota!” teriak Ground pada mereka berdua.

Tempest bimbang. Apakah ia harus menuruti perintah Ground, atau membantu Ground. Sementara Slain sudah tak bisa berlari lagi. Dia terluka karena serangan Kyounzh tadi.
”Tempest! Bawa Slain sampai ke kota! Cepat!” teriak Ground, sementara seekor Kyounzh berhasil melukai tangan kiri Ground.

Tempest membulatkan tekadnya. Aku tak akan lari, batinnya.

”Slain, pinjam belatimu!” kata Tempest, langsung mencabut belati dari pinggang Slain.
Tempest maju ke medan pertarungan, dengan membabi-buta menyerang seekor Kyounzh.

”Tempest, apa yang kau lakukan? Cepat bawa Slain lari!” hardik Ground.

”Tidak, Ground. Kau saja yang bawa Slain lari ke kota. Biar para Kyounzh ini aku yang urus!” kata Tempest mantap.

Ground diam mendengar kemantapan Tempest. Ia lalu mundur dari medan pertarungan, memapah Slain berdiri, lalu menjauh. Tapi, tidak lari ke kota.

”Kita mengawasi disini. Aku akan maju lagi jika terjadi apa-apa pada Tempest.” ujar Ground, melihat kebingungan Slain.

Sementara Tempest denagn kekuatan penuh terus menyerang para Kyounzh. Ia tampak tak peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Tiba-tiba, seekor Kyounzh berhasil menerkamnya. Kyounzh yang lainnya langsung mengeroyoknya sampai luka parah.

”Tempest!” teriak Ground, yang hendak langsung maju.

”Ground, menjauh! Lari sampai kota!” balas Tempest.

”Aku tak bisa membiarkan kau seperti ini!” balas Ground lagi.

”LARI! CEPAT!” teriak Tempest sekencang-kencangnya.

Ground terpaksa mundur, tapi tidak lari.

Tempest dengan sekuat tenaga mendorong seekor Kyounzh yang lebih kecil, dan menusuknya. Kyounzh tersebut terpakar tak berdaya. Tempest tampak berang, ia menendang seekor Kyounzh lagi, dan langsung menginjaknya. Kyounzh itu langsung terkapar. Tiga Kyounzh lagi melihat itu langsung terdiam, dan melarikan diri. Ground dan Slain pun terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa.

”Kau hebat, Tempest…” kata Ground pelan.

Tempest tersenyum, dan roboh…

*****

Tempest membuka matanya perlahan, matahari pagi menyinari mukanya dengan lembut. Dia ada di sebuah kamar. Dia memandang keluar jendela. Ya, pemandangan yang biasa dilihat. Anak-anak sedang bermain di luar, dan banyak petani sedang memetik buah. Ya, sedang musim buah sekarang. Tiba-tiba pintu dibuka…

”Pagi, Tempest, sarapan sudah siap!” seorang perempuan cantik masuk ke dalam.

Dengan malas Tempest mengikutinya ke meja makan. Sudah tersedia beberapa piring makanan. Dan ketika ia melihat isinya lebih jelas, ia kaget.

”Kakak, kenapa apel panggang semua?” protes Tempest.

”Habis, tadi pagi, Tuan Rach memberikan sekeranjang apel, jadi kuputuskan saja makan pagi kita apel panggang. Ini, juga sudah kubuat tart apel untukmu.” kata perempuan itu.

”Ayah dan ibu kemana?” tanya Tempest.

”Mereka ada urusan dengan Tuan Rach. Jadi pergi sebentar.” jawab perempuan itu.

Seekor Kyounzh seukuran anjing berjalan pelan ke arah mereka. Menggoyangkan ekornya dengan pelan.

”Kau lagi…” gerutu Tempest.

”Jangan mengomel ke Konron. Konron, kau mau makan apel?” tanya perempuan itu ramah.

Konron menggoyangkan ekor lagi. Perempuan itu memberinya dua buah apel. Konron tampak sangat menikmatinya.

Perempuan itu adalah Flowings, kakak Tempest. Ya, tiga minggu telah lewat sejak kejadian itu. Ketika Tempest roboh, Ground dan Slain memutuskan membawanya ke kota. Tiba-tiba Flowings muncul dari belakang. Ternyata selama ini Flowings terus mencari mereka, untuk membatalkan niat Tempest ikut bersama Ground dan Slain, karena ketika berangkat, Tempest tidak memberitahunya. Sampai sekarang, Tempest tak tahu mengapa Flowings tidak setuju ia ikut mencari harta karun. Tahu-tahunya ketika Tempest siuman, ia menemukan bahwa dirinya telah ada di rumahnya sendiri. Ternyata, ketika mereka sampai di Kota Repivtast, mereka bertemu Tuan Rach, seorang petani kaya di desa mereka, dan sang petani itu pun mengantar Flowings dan Tempest pulang. Tentang Konron, Kyounzh itu dibawa oleh Flowings ikut pulang, karena Flowings merasa kasihan melihatnya tidak sadarkan diri dan luka parah, setelah ditusuk oleh Tempest. Seekor lagi telah siuman dan melarikan diri. Tempest sebenarnya tidak setuju Konron dibawa pulang, tetapi dikarenakan ia takut Flowings marah-marah dan juga orang tua mereka menyetujui, ia tak punya pilihan, selain ikut setuju.

Selesai sarapan, Tempest berjalan-jalan keluar. Ia masih kecewa karena tidak bisa ikut mencari harta. Tapi, menurut Flowings, Ground dan Slain berjanji membagi harta temuan mereka kepada Tempest. Yah, sementara menunggu, mungkin aku terpaksa harus kembali ke profesi lamaku, batin Tempest.

Dua sosok misterius berhadapan, seorang lelaki dan seorang perempuan. Sang lelaki menghunuskan pedangnya, menantang perempuan itu. Tapi perempuan itu tetap berdiri dengan tenangnya.

Lelaki itu marah.

Dia sedang mempermainkanku, batinnya.

Tanpa panjang lebar lagi, lelaki tersebut maju, hendak menyerang perempuan misterius itu. Tinggal semeter dari perempuan itu, tiba-tiba sang lelaki merasakan kesakitan yang luar biasa di dadanya. Rupanya, dadanya telah terpanah. Ia segera lari meninggalkan perempuan itu. Sang perempuan tidak mengejarnya. Baru beberapa meter, lelaki itu jatuh terduduk. Ia mencabut panah dari dadanya. Perempuan itu tersenyum. Ia berjalan mendekati lelaki itu. Lelaki itu berteriak sekencang-kencangnya.

Tiba-tiba dari angkasa, jatuhlah seberkas cahaya, menyambar perempuan itu. Ia tak sempat menghindar, dan lenyaplah ia ketika cahaya tersebut menghilang.

Lelaki itu tersenyum, lalu roboh.

*****

Delapan belas tahun kemudian…

“Hoahhm… Aku ngantuk…” keluh seorang lelaki.

”Hei, pemalas, ayo cepat jalan! Kita tak punya banyak waktu lagi” omel lelaki lain, yang badannya lebih besar.

”Oh ya? Bagaimana dengan orang yang berada di belakang kita?” tanya lelaki pertama.

Lelaki kedua yang badannya lebih besar itu menoleh. Tampak seorang lelaki lain yang sedang duduk kelelahan di atas batu. Ia menenggak minumannya.

”Hei, Tempest! Cepat sedikit! Matahari sudah di atas kepala kita!” hardik lelaki berbadan besar itu.

Lelaki yang bernama Tempest itu mendongak, lalu berkata, ”Maaf, Ground. Aku ingin istirahat sebentar. Kalian berdua lanjutkan saja, nanti aku menyusul kalian.”

Ground tampak marah.

”Cepat jalan lamban! Kalau tidak aku dan Slain tidak akan berbagi hasil padamu!” hardik Ground.

Tempest mendesah, pasrah. Dia terpaksa mengikuti Ground dan Slain dari belakang. Ya, mereka sedang mencari harta karun. Tempest terpaksa mengikuti Ground, pemburu harta karun, karena untuk sementara, pekerjaannya sebagai pemburu hewan tidak dapat dilaksanakan.

Ya, Belakangan ini, Howling Forest, hutan dekat Desa Windge, tempat Tempest tinggal, memang angker. Beberapa orang desa yang masuk ke hutan itu, tidak ada kabar beritanya lagi. Mereka masuk, dan tidak keluar lagi. Menurut rumor, penunggu hutan yang telah lama tertidur telah bangun. Tidak senang manusia masuk ke hutan itu, ia menyerang dan menawan mereka. Tempest pun takut hal ini benar-benar terjadi.

Sekarang, dia tidak punya uang sepeser pun. Makanan pun tak ada. Maka, begitu tetangganya, Slain, memutuskan untuk ikut saudaranya, Ground, menjadi pemburu harta karun, Tempest cepat-cepat menawarkan diri untuk ikut. Walaupun Slain dan Ground tidak begitu setuju, mereka akhirnya mengiyakan, setelah Tempest memohon-mohon.

Selama di perjalanan, Ground memperlakukan mereka berdua dengan sangat kasar. Makan hanya boleh sedikit, katanya supaya menghemat persediaan. Nyaris tidak ada waktu istirahat, tidur hanya boleh empat jam sehari, dan masih banyak lagi kekejaman Ground. Ia juga sering menghardik mereka berdua, terutama Tempest, yang dianggapnya hanya penggangu. Tempest terpaksa sabar menghadapi, selain menghidupi dirinya sendiri, ia juga harus menghidupi keluarganya. Ya, orang tua dan kakak perempuannya menunggunya di rumah.

Hari sudah sore, mereka masih terus berjalan. Ground berkata, ”Setelah kita mencapai balik bukit itu, kita akan beristirahat.”

Apa? Balik bukit itu? Naik saja belum, batin Tempest. Ya, mau bagaimana lagi. Ia tetap harus mengikuti kemauan Ground.

Satu setengah jam kemudian, akhirnya mereka mulai mendaki bukit itu. Tempest merasa sangat lapar dan lelah, namun ia tidak berani mengeluh pada Ground. Ia melihat bahwa Slain juga tampak lelah, tetapi tetap mengikuti langkah Ground. Ground tampak tegap, tidak sedikit pun terlihat lelah. Tempest bingung, sebenarnya ilmu gaib apa yang dimiliki Ground.

”Ya! Sebentar lagi kita akan mencapai puncak bukit! Di sana kita bisa melihat tempat yang akan kita tuju!” kata Ground bersemangat.

Lalu mereka bertiga pun terus mendaki bukit itu. Tiba-tiba, muncullah sesosok makhluk raksasa, seperti rubah, dan berbulu merah, menghadang mereka,

” Ini Kyounzh… Hati-hati, dia sangat berbahaya! Siapkan senjata kalian!” kata Ground.

Makhluk bernama Kyounzh ini dengan brutal berlari ke arah mereka, siap memangsa mereka. Ground mencabut belati dari sakunya, lalu bertarung melawan Kyounzh.

”Tempest, haruskah kita diam saja?” tegur Slain sambil ikut mencabut belatinya.

Walaupun berbadan besar, ternyata Ground sangat gesit. Ia menghindari setiap terkaman Kyounzh, dan mencoba melukainya. Sayangnya sang Kyounzh juga sangat gesit. Slain mencoba membantu Ground, dan berhasil melukai kaki Kyounzh. Tapi, Kyounzh malah balik menyerang Slain sampai jatuh, siap menyerang Slain lagi.

”Sial, busurku tidak kubawa… Seandainya aku juga punya senjata…” gumam Tempest panik.

Tiba-tiba, Tempest melihat sebuah pedang tertancap di atas batu, di belakangnya. Pedang itu seperti mempunyai aura putih yang luar biasa. Tanpa panjang lebar lagi, Tempest mencabut pedang itu, dan berlari mendekati medan pertempuran. Di sana, sang Kyounzh sudah bersiap menerkam Slain. Dengan cepat, Tempest mencoba menebas binatang itu.

Terjadi ledakan angin. Slain dan Ground ikut terhempas, dan binatang itu, Kyounzh, seperti di makan angin, lenyap tak berbekas. Tempest menutup matanya, ketakutan, dan ketika membuka mata, dia hanya melihat Slain dan Ground terkapar. Dia pun hanya memegang dahan pohon. Pedang itu sudah lenyap.

”Apa itu barusan?” tanya Ground tercengang.

Aku… Aku tidak tahu… Tiba-tiba saja…” Tempest berusaha menjelaskan, gugup.

“Gejala alam yang aneh…” gumam Ground. ”Ah, sudahlah. Berkat itu kita tertolong. Binatang itu sangat berbahaya. Predator alam yang sangat buas dan cepat. Biasanya tinggal di hutan. Aneh, kenapa dia bisa di bukit ya?”

Hutan? Tiba-tiba Tempest teringat Howling Forest. Jangan-jangan, di hutan itu ada…

”Ugh…” Slain yang pingsan akibat pertarungan tadi, siuman.

”Ya, terima kasih pada alam yang membantu kita mengalahkan binatang tadi. Ya, aku berterima kasih pada kalian berdua, yang mencoba membantuku. Tapi lain kali, kau, Tempest, jangan mencoba memukul Kyounzh hanya dengan sebuah dahan pohon. Sangat berbahaya, tak mempan baginya, nyawamu pun bisa terancam.” ujar Ground, lega.

Tempest terdiam, tidak bisa menceritakan kejadian sebenarnya. Ia merasa harus merahasiakannya.

”Karena Slain terluka, dan aku juga kelelahan. Kita istirahat di sini saja dulu. Sekalian mengobati luka Slain dan makan malam. Tapi, sebentar saja, karena kita pun harus waspada, kalau-kalau ada binatang buas lagi” kata Ground lagi.

Mereka bertiga pun beristirahat di sana sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan lagi.

 

 

Story

Salam semua… Blog ini dikhususkan untuk menampilkan cerita-cerita yang kubuat. Cerita yang pertama kali akan kubuat adalah Gate of Athernal, dimana mengisahkan para pembebas yang akan membebaskan manusia dari kegelapan. Aku tak akan berpanjang lebar disini, untuk keterangan lebih lanjut, silakan buka: http://kurnzhoucmt.wordpress.com

Terima kasih, silakan menikmati cerita dari episode satu.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!