“Kau… Kau… Fsy…? Ba… Bagaimana mungkin?” Tempest tampak shock.
Sosok itu mendekatinya, masih tersenyum, mengarahkan senapan busurnya ke Tempest, “Dor! Kena kau!”
“Selama ini, Kakak yang…”
“Aku juga baru menyadarinya, beberapa saat setelah kau pergi.” Sekarang tampak jelas sekali bahwa ia Flowings. “Bahwa aku adalah seorang dari lima pembebas.”
“Lalu kode nama Fsy itu…” Tempest berusaha menenangkan diri.
Flowings tampak kesal, “Kau sudah berapa lama jadi adikku?”
“Um…”
“Tujuh belas tahun, Tempest! Tujuh belas tahun! Masa kau tidak tahu siapa namaku?”
“Flowings Skyero…” Tempest kaget, tiba-tiba semua menjadi jelas, dan ia tertawa.
“Hahahahaha! Aku bodoh ya… Kode nama semudah itu… Kalau saja waktu bangun aku mengeja nama Kakak secara benar…” Tempest tertawa terbahak-bahak.
“Flowings SkYero, FSY…” Flowings mengucapkan namanya, sambil menekankan pada huruf F-S-Y. Lalu ikut tertawa, “Adik bodoh…”
“Karena terlalu banyak tertawa, aku jadi lupa mau tanya apa. Aku berencana bertanya beberapa hal, jika aku bertemu Fsy…” Tempest masih tertawa.
“Sudah, ayo pulang… Mau makan malam?”
“Makan malam???”
“Ini sudah sore, Tempest. Kau terlalu banyak tidur…”jelas Flowings, masih tertawa.
*****
“Ayah dan ibu belum pulang?” tanya Tempest bingung.
“Sebenarnya, mereka dan Tuan Rach sedang jalan-jalan. Aku sengaja bilang, aku malas ikut, dan kau sedang sakit…” Flowings tersenyum licik, sambil memberi Konron biskuit.
“Dasar Kakak, penduduk desa pasti menganggapku gila sekarang.”
“Makanya sudah kuperingatkan, jangan pernah mengungkit masalah ini lagi. Sudah untung aku menyelamatkanmu dengan surat itu. Kalau tidak, kau sudah benar-benar dianggap gila. Tadi aku juga sudah menjelaskan pada mereka, bahwa aku sedang mau mengerjaimu. Aku kena omel, deh.” jelas Flowings, tampak kesal.
Flowings meletakkan dua buah piring di atas meja, dan menghidangkan setumpuk roti panggang. “Sudah kubilang, Tuan Rach memberi kita banyak roti, jadi harus kau habiskan semuanya, Tempest. Kau mau besok makan roti lagi?” terang Flowings, melihat kekesalan di muka Tempest.
“Sejak kapan jalan ke hutan tertutup batu?”
“Sudah lama. Gempa itu benar-benar ada, Tempest. Tapi waktu kau pulang, batu sudah berhasil dihancurkan. Entah kenapa, setelah aku membawamu pulang dari hutan, batunya muncul lagi.”
“Lalu sejak kapan Kakak menyadari aku juga pembebas?” tanya Tempest dengan mulut penuh roti.
“Sudah kubilang, aku kan mencarimu ketika kau pergi. Ketika kau menggunakan pedang itu untuk mengalahkan Kyounzh, aku kaget, tapi aku belum bisa memastikan. Makanya, ketika kau masuk hutan, aku khawatir sekali padamu, jadi kuikuti saja.”
“Lalu kalau aku benar-benar bertanya pada Guru Efron soal pedang itu, bagaimana?”
“Guru Efron sedang jalan-jalan bersama Tuan Rach juga,” jawab Flowings riang. “Makanya kumanfaatkan kesempatan ini. Lagipula itu hanya untuk menenangkanmu sebentar. Aku akan membuka kedokku sebelum mereka pulang.”
Tempest diam saja. Dia masih tak percaya apa yang terjadi hari ini. Benar-benar peristiwa aneh.
“Tak kusangka, kau bisa diberi mimpi itu secepat ini. Makanya hari ini juga kuberitahu.” jelas Flowings.
“Tapi, Kakak hebat, bisa mengalahkan Phantom Deer dalam satu tembakan.”
“Aku hanya memanfaatkan kesempatan. Lagipula, kau kan sedang tidak memakai senjata pilihan.”
Tempest tampak bingung.
“Pedangmu. Busur ini juga.”
Tiba-tiba, Tempest teringat akan sesuatu. Ia memang ingin bertanya hal itu ketika bertemu Fsy.
“Kakak… Dalam mimpiku…”
“Kita harus mencari dua orang lagi kan?” potong Flowings. “Menurutku, tak ada di desa ini. Kita harus keluar…”
“Bagaimana Kakak bisa yakin bahwa mereka berdua tak ada di desa ini?”
“Batu itu… Menurutku, batu itu akan muncul setiap kali ada pembebas yang memasuki hutan itu. Ketika kau tertidur, aku mengamati bahwa ada beberapa orang berusaha menghancurkan batu itu. Waktu itu, dengan mudahnya mereka menghancurkan batu itu. Anehnya, untuk yang kali ini, batu itu tak bisa dihancurkan. Dan tak ada gejala aneh sebelum kemunculan batu itu. Jadi, aku menarik kesimpulan bahwa sudah tak ada lagi pembebas dari desa ini. Lagipula, apa masuk akal jika semua pembebas berasal dari desa ini?”
Tempest mengangguk. Baru kali ini ia mengakui kecerdasan kakaknya. Tapi kemudian ia ingat sesuatu.
“Kak, kalau Kakak, kenapa masuk ke hutan itu?”
Flowings tampak terkejut ditanya seperti itu. Lalu dengan malu-malu ia menjawab, “Itu… Sebenarnya, aku ingin sekali mencari binatang peliharaan yang lucu. Makanya, aku masuk untuk mencarinya. Kupikir, kalau hanya di area luar saja, tidak apa-apa, tapi aku malah dikejar Phantom Deer sampai masuk ke dalam. Beruntung aku selamat.”
“Lalu?”
“Yah… Sama sepertimu. Tapi aku memilih kabur daripada melawan. Lalu aku tersesat dan ceritanya sama sepertimu. Hanya saja… Aku berhasil keluar!” lanjut Flowings, bangga.
Tempest diam saja.
“Makanya, jangan pernah melawan apa yang tidak bisa kau lawan. Kalau tidak ada aku, bagaimana?” kata Flowings, sok menasehati.
“Eh, Kak,” Tempest berusaha mengalihkan pembicaraan, “Jadi kapan kita akn berangkat mencari yang lain?”
“Sesegera mungkin. Kalau besok mau?” tawar Flowings.
“Terserah Kakak saja.” pasrah Tempest.
*****
Memang sebuah kejutan bagi Tempest mengetahui bahwa kakaknya juga pembebas, sama seperti dirinya. Sekarang dia sedang berkemas, membawa perlengkapan, sedikit makanan, dan beberapa stel pakaian untuk perjalanan. Tadi, Flowings telah meminta izin orang tua dan guru mereka, yang baru saja kembali, untuk pergi. Flowings beralasan mereka perlu mencari penghidupan bagi orang tua mereka. Selesai berkemas, mereka bergegas meninggalkan desa, dan memulai petualangan baru mereka. Petualangan yang menentukan nasib dunia mereka.